Berbagi Pengetahuan Seputar Pendidikan | Berita | Metode Pembelajaran | Unik dan Menarik | Tips Tips

Model pembelajaran Snowball Throwing

HGS INFORMASI . Model pembelajaran Snowball Throwing dibentuk kelompok yang diwakili ketua kelompok unuk mendapat tugas dari guru, kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh.


Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Snowball Throwing adalah 

Kelebihan Model Pembelajaran Snowball Throwing :
1. Melatih kesiapan siswa
2. Saling memberikan pengetahuan

Kekurangan Model Pembelajaran Snowball Throwing :
1. Pengetahuan tidak luas hanya berkutat pada pengetahuan sekitar siswa saja
2. Tidak efektif


Model pembelajaran Snowball Throwing

Membaca pemahaman dapat diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan oleh seorang pembaca untuk memahami informasi dalam bacaan. Dalam konteks pembelajaran di kelas, membaca pemahaman merupakan kegiatan menuntun siswa untuk dapat memahami isi bacaan secara tepat. Untuk meningkatkan kemampuan pemahaman siswa diperlukan pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman, baik faktor yang berasal dalam siswa maupun faktor luar yang mendukung belajarnya. Pengetahuan tentang faktor-faktor itu merupakan salah satu alternatif dalam menjawab berbagai kesulitan yang dialami siswa dalam pembelajaran.

Kesulitan-kesulitan tersebut diduga sebagai akibat dari pelaksanaan pembelajaran yang masih mengacu pada paradigma lama. Siswa dianggap orang dewasa dalam bentuk kecil sehingga tugasnya di sekolah hanya mendengarkan yang disampaikan guru. Mereka dianggap tidak lebih dari botol kosong yang menunggu disisi apa saja oleh guru. Sedangkan guru aktif dengan gaya birokrat dan instruktifnya. Dampaknya, proses pembelajaran tidak menyenangkan dan hasilnya pun tidak optimal.

Agar pembelajaran berhasil optimal, guru hendaknya menciptakan kondisi ideal dengan penuh kasih sayang, kehangatan, dorongan, dukungan, dan menganggap siswa sebagai mitra. Usia siswa SMP masih dalam kategori usia bermain. Oleh sebab itu, pembelajaran hendaknya dirancang agar mereka (seakan-akan) bermain, yaitu bermain dalam batas-batas pedagogik. Jika hal ini dapat diwujudkan, kesenangan dan kecepatan belajar dapat melekat erat pada siswa. Demikian pula halnya dengan pembelajaran membaca pemahaman, hendaknya dirancang secara menarik. Sumber bacaan pun harus mengacu pada bakat, minat, dan harapan mereka sehingga pembelajaran menjadi interaksi yang bermakna. Bermakna jika berkesan, berkesan jika melibatkan seluruh indera mereka.

Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, muncul ide “Teknik Melempar Bola Kertas untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa terhadap Teks Bacaan”. Teknik ini merupakan salah satu teknik inovatif yang dirancang dalam bentuk siswa saling lempar bola kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan bacaan dengan warna bola kertas yang berbeda-beda, 

sesuai dengan tingkat kesulitannya. Cara seperti ini, di samping menyenangkan juga bermanfaat dalam mengembangkan nalar dan daya kreatif. Keistimewaan teknik ini adalah mampu  melibatkan  seluruh  siswa karena mereka akan bermain dalam kelompok-kelompok kecil. 

Fenomena ini berangkat dari asumsi dasar bahwa pada hakekatnya siswa usia SMP masih senang bermain, dan mereka pun dapat diajak untuk belajar sambil bermain. Selain itu, permainan ini mampu merangsang daya pikir siswa, inovatif, kreatif, dan kritis, sehingga mereka mampu memahami pesan yang terdapat dalam bacaan. Respon-respon positif yang timbul secara komunikatif, merupakan hasil dari permainan yang dirancang  dan  diatur  secara  menarik dan sistematis. Dengan permainan ini, pembelajaran menjadi menyenangkan. Hasilnya pun meningkat hingga mencapai 90,6% tuntas.

PROSEDUR UMUM PEMBELAJARAN


Kegiatan Pendahuluan Pembelajaran
Keberhasilan proses pembelajaran di antaranya sangat dipengaruhi oleh kegiatan pendahuluan pembelajaran. Fungsi kegiatan pendahuluan pembelajaran atau pra-instruksional fungsinya adalah untuk menciptakan awal pembelajaran yang efektif agar siswa siap secara penuh dalam mengikuti kegiatan inti pembelajaran.
Dengan waktu yang relatif singkat guru harus dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan yang menunjang terhadap terbentuknya kondisi awal belajar siswa yang efektif.
Beberapa kegiatan pendahuluan yang perlu dilakukan dalam pembelajaran, di antaranya sebagai berikut.
1.      Menciptakan kondisi awal pembelajaran.
Untuk mewujudkan kondisi awal pembelajaran yang baik, perlu adanya upaya yang harus dilakukan oleh guru, upaya di antaranya:
1.      Menciptakan semangat dan kesiapan belajar, upaya ini dapat diwujudkan melalui bimbingan dari guru pada siswa. Atau melalui cara dan teknik yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran.
2.      Menciptakan suasana demokrasi dalam belajar, upaya ini dapat diwujud-kan melalui cara, dan teknik yang digunakan guru dalam mendorong siswa agar berkreatif, dalam belajar dan mengembangkan keunggulan yang dimiliki siswa.
2.      Melaksanakan apersepsi dan atau penilaian kemampuan awal siswa.
Kegiatan ini lebih menekankan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan awal yang telah dimiliki siswa. Serta guru perlu menghubungkan materi pelajaran yang telah dimiliki siswa dengan materi yang akan dipelajari siswa. Dengan tidak mengenyampingkan pemberian motivasi belajar terhadap siswa. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan rangkaian yang perlu dikembangkan pada awal pembelajaran.


Kegiatan Inti dalam Pembelajaran
Kegiatan inti dalam pembelajaran memegang peranan penting untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Oleh karena itu, kegiatan inti dalam pembelajaran merupakan kegiatan yang kompleks dalam proses belajar mengajar yang mengutamakan pada proses pembentukan pengalaman belajar siswa.
Kegiatan inti dalam pembelajaran harus direncanakan oleh guru berdasarkan pada kurikulum yang berlaku. Dengan memprioritaskan pada aktivitas siswa yang dibimbing secara efektif oleh guru.
Langkah-langkah kegiatan inti dalam pembelajaran meliputi:
1.      Memberitahukan tujuan/topik pelajaran yang akan dibahas.
2.      Menyampaikan alternatif kegiatan belajar yang harus ditempuh siswa.
3.      Membahas/menyajikan materi pelajaran.
Dalam langkah ini dikelompokkan menjadi tiga kelompok pembelajaran, meliputi:
1.      Pembelajaran klasikal, digunakan apabila materi pembelajarannya lebih bersifat fakta atau informatif. Terutama ditujukan untuk memberikan informasi atau sebagai pengantar dalam proses belajar mengajar. Sehingga cenderung metode ceramah dan tanya jawab yang akan banyak digunakan.
2.      Pembelajaran kelompok, digunakan apabila materi pelajarannya lebih mengembangkan konsep pokok/sub-pokok bahasan yang sekaligus mengembangkan aktivitas sosial, sikap nilai, kerja sama, dan aktivitas dalam pemecahan masalah melalui kelompok belajar siswa. Pembelajaran perseorangan, digunakan apabila ingin membantu proses belajar mengajar yang mengarah pada optimalisasi kemampuan siswa secara individu. Serta untuk melaksanakan kegiatan pengayaan dan perbaikan hasil proses belajar mengajar.
3.      Menyimpulkan bahan pelajaran.

Kegiatan Akhir dan Tindak Lanjut Pembelajaran
Kegiatan akhir dan tindak lanjut pembelajaran harus direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis, efektif, efisien, dan fleksibel.
Kegiatan akhir dan tindak lanjut pembelajaran harus merupakan rangkaian kegiatan pendahuluan dan kegiatan inti pembelajaran.
Kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan dalam kegiatan akhir dan tindak lanjut pembelajaran adalah:
1.      Melaksanakan penilaian akhir
2.      Mengkaji hasil penilaian akhir
3.      Melaksanakan kegiatan tindak lanjut, alternatif kegiatan di antaranya:
1.      memberikan tugas atau latihan-latihan
2.      menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa
3.      menugaskan membaca materi pelajaran tertentu
4.      memberikan motivasi/bimbingan belajar
4.      Mengemukakan topik bahasan yang akan datang
5.      Menutup pelajaran.

TEORI BEHAVIORISME



1. Obyek psikologi adalah tingkah laku
2. semua bentuk tingkah laku di kembalikan pada reflek
3. mementingkan pembentukan kebiasaan
ADA DUA ALIRAN BESAR DALAM TEORI BEHAVIORISME
1. reflek bersarat dari rusia di antaranya PAVLOV dkk
2. behaviorisme dari amerika di antaranya THORNDIKE dkk
A .Teori Belajar Behaviouristik
Pengertian
Adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang
individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan.Pengalaman dan
pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
Kerangka Berfikir Teori
Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis,
menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon,
menekankan pentingnya latihan,mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan
peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang
diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku
manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari
lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara
reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini
berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan
tingkahllaku adalah hasil belajar.
TEORI BEHAVIORISME
Dalam teori behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapatdiukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teoribelajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahanperilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau memperoalkanapakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya inginmengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam artiteori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individusebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman danpemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusiamesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagiankecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukanreaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasilbelajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalahmunculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologisartinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan


Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti. Yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Penguatan sekedar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang dengan jalan mencegah perolehan respon yang baru. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.
Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus respon secara tepat. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak (Bell, Gredler, 1991).

Teori Belajar Menurut Clark Hull

Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis (Bell, Gredler, 1991).




Tahapan TAKSONOMI BLOOM



Konsep Taksonomi Bloom dikembangkan pada tahun 1956 oleh Benjamin Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan.
Taksonomi berasal dari bahasa Yunani tassein berarti untuk mengklasifikasi dan nomos yang berarti aturan. Taksonomi berarti klasifikasi berhirarkhi dari sesuatu atau prinsip yang mendasari klasifikasi. Semua hal yang bergerak, benda diam, tempat, dan kejadian sampai pada kemampuan berpikir dapat diklasifikasikan menurut beberapa skema taksonomi.
Konsep tersebut mengalami perbaikan seiring dengan perkembangan dan kemajuan jaman serta teknologi. Salah seorang murid Bloom yang bernama Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom pada tahun 1990. Hasil perbaikannya dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. Dalam revisi ini ada perubahan kata kunci, pada kategori dari kata benda menjadi kata kerja. Masing-masing kategori masih diurutkan secara hirarkis, dari urutan terendah ke yang lebih tinggi. Pada ranah kognitif kemampuan berpikir analisis dan sintesis diintegrasikan menjadi analisis saja. Dari jumlah enam kategori pada konsep terdahulu tidak berubah jumlahnya karena Lorin memasukan kategori baru yaitu creating yang sebelumnya tidak ada.
Setiap kategori dalam Revisi Taksonomi Bloom terdiri dari subkategori yang memiliki kata kunci berupa kata yang berasosiasi dengan kategori tersebut. Kata-kata kunci itu seperti terurai di bawah ini :
1.      Ingatan
Memunculkan kembali apa yang sudah diketahui dan tersimpan dalam ingatan jangka-panjang.
Contoh kata kerja yang di gunakan yaitu: mengurutkan, menjelaskan, mengidentifikasi, menamai, menempatkan, mengulangi , menemukan kembali.

Indikator:
1.1  Siswa dapat berhitung 1 sampai 10 (Matematika)
1.2  Siswa dapat menyebut A sampai J (Bahasa Indonesia)
1.3  Siswa dapat menjelaskan perbedaan jenis kelamin (PPKN)
1.4  Siswa dapat mengenali bagian-bagian pohon (IPA)
1.5  Siswa dapat mengidentifikasi keluarganya (IPS)

2.      Pemahaman (understand)
Menegaskan pengertian atau makna bahan-bahan yang sudah diajarkan, mencakup komunikasi lisan, tertulis, maupun gambar.
Contoh kata kerja yang di gunakan yaitu: menafsirkan, meringkas, mengklasifikasikan, membandingkan, menjelaskan, membeberkan.

Indikator:
2.1  Siswa dapat memahami macam-macam contoh perbedaan jenis kelamin (PPKN)
2.2  Siswa dapat Menanyakan data diri dan nama orang tua serta saudara kandung teman sekelas (Bahasa Indonesia)
2.3  Siswa dapat Menyebutkan nama-nama anggota keluarga. (IPS)
2.4  Siswa dapat Menceritakan kegunaan bagian-bagian tubuh yang diamati (IPA)
2.5  Siswa dapat Menghitung bagian anggota tubuh (Matematika)

3.      Menerapkan (Application)
Melakukan sesuatu, atau menggunakan sesuatu prosedur dalam situasi tertentu
Contoh kata kerja yang di gunakan yaitu: melaksanakan, menggunakan, menjalankan, melakukan, mempraktekan, memilih, menyusun, memulai, menyelesaikan, mendeteksi.

Indikator:
3.1 Siswa dapat memilih temannya sendiri (PPKN)
3.2 Siswa dapat Menyusun huruf, kata dan kalimat sederhana dengan benar. (Bahasa Indonesia)
3.3 Siswa dapat  Menceritakan pentingnya kesehatan bagi pertumbuhan tubuh.(IPS)
3.4 Siswa dapat Mendeteksi Bagian-bagian tubuh (IPA)
3.5 Siswa dapat Menghitung banyak huruf A sampai Z(Matematika)

4.      Analisis (Analyze)
Menguraikan sesuatu ke dalam bagian-bagian yang membentuknya, dan menetapkan bagaimana bagian-bagian atau unsur-unsur tersebut satu sama lain saling terkait, dan bagaimana kaitan unsur-unsur tersebut kepada keseluruhan struktur atau tujuan sesuatu itu.
Contoh kata kerja yang di gunakan yaitu: menguraikan, membandingkan, mengorganisir, menyusun ulang, mengubah struktur, mengkerangkakan, menyusun outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan, mengintegrasikan.



Indikator:
4.1  Siswa dapat Membandingkan postur tubuh (IPA)
4.2  Siswa dapat Membedakan benar dan salah (PPKN)
4.3  Siswa dapat Menyusun Angka dengan benar (Matematika)
4.4  Siswa dapat Membedakan berbagai bunyi bahasa (Bahasa Indonesia)
4.5  Siswa dapat Menceritakan pengalaman yang pernah dialami (IPS)

5.      Evaluasi (Evaluate)
Menetapkan derajat sesuatu berdasarkan kriteria atau patokan tertentu
Contoh kata kerja yang di gunakan yaitu: menyusun hipotesi, mengkritik, memprediksi, menilai, menguji, mebenarkan, menyalahkan.

Indikator:
5.1  Siswa dapat  membenarkan perkataan (Bahasa Indonesia)
5.2  Siswa dapat mengkritik cara berpakaian (PPKN)
5.3  Siswa dapat menilai pengalaman (IPS)
5.4  Siswa dapat menguji kemampuan dalam berhitung (Matematika)
5.5  Siswa dapat memprediksi pertumbuhan hewan (IPA)

6.      Mencipta (Create)
Memadukan unsur-unsur menjadi sesuatu bentuk utuh yang koheren dan baru, atau membuat sesuatu yang orisinil: merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, membaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, mengubah.

Indikator:
6.1  Siswa dapat merencanakan hari esok (IPS)
6.2  Siswa dapat menemukan tumbuhan baru (IPA)
6.3  Siswa dapat Menghitung penemuan-penemuannya (Matematika)
6.4  Siswa dapat Memperkuat ikatan antar sesama keluarga (IPS)
6.5  Siswa dapat  Menyempurnakan diri dalam keagamaan (PPKN)

METODE STAD UNTUK SD

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD


Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan salah satu metode atau pendekatan dalam pembelajaran kooperatif yang sederhana dan baik untuk guru yang baru mulai menggunakan pendekatan kooperatif dalam kelas, STAD juga merupakan suatu metode pembelajaran kooperatif yang efektif.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri lima komponen utama, yaitu penyajian kelas, belajar kelompok, kuis, skor pengembangan dan penghargaan kelompok. Selain itu STAD juga terdiri dari siklus kegiatan pengajaran yang teratur.

Variasi Model STAD

Lima komponen utama pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu:

a) Penyajian kelas.

b) Belajar kelompok.

c) Kuis.

d) Skor Perkembangan.

e) Penghargaan kelompok.

Berikut ini uraian selengkapnya dari pembelajaran kooperatif tipe StudentTeams Achievement Division (STAD).

1. Pengajaran

Tujuan utama dari pengajaran ini adalah guru menyajikan materi pelajaran sesuai dengan yang direncanakan. Setiap awal dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD selalu dimulai dengan penyajian kelas.

Penyajian tersebut mencakup pembukaan, pengembangan dan latihan terbimbing dari keseluruhan pelajaran dengan penekanan dalam penyajian materi pelajaran.

a) Pembukaan

1) Menyampaikan pada siswa apa yang hendak mereka pelajari dan mengapa hal itu penting. Timbulkan rasa ingin tahu siswa dengan demonstrasi yang menimbulkan teka-teki, masalah kehidupan nyata, atau cara lain.

2) Guru dapat menyuruh siswa bekerja dalam kelompok untuk menemukan konsep atau merangsang keinginan mereka pada pelajaran tersebut.

3) Ulangi secara singkat ketrampilan atau informasi yang merupakan syarat mutlak.

b) Pengembangan

1) Kembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok.

2) Pembelajaran kooperatif menekankan, bahwa belajar adalah memahami makna bukan hapalan.

3) Mengontrol pemahaman siswa sesering mungkin dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.

4) Memberi penjelasan mengapa jawaban pertanyaan tersebut benar atau salah.

5) Beralih pada konsep yang lain jika siswa telah memahami pokok masalahnya.

c) Latihan Terbimbing

1) Menyuruh semua siswa mengerjakan soal atas pertanyaan yang diberikan.

2) Memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan soal. Hal ini bertujuan supaya semua siswa selalu mempersiapkan diri sebaik mungkin.

3) Pemberian tugas kelas tidak boleh menyita waktu yang terlalu lama. Sebaiknya siswa mengerjakan satu atau dua masalah (soal) dan langsung diberikan umpan balik.

2. Belajar Kelompok

Selama belajar kelompok, tugas anggota kelompok adalah menguasai materi yang diberikan guru dan membantu teman satu kelompok untuk menguasai materi tersebut. Siswa diberi lembar kegiatan yang dapat digunakan untuk melatih ketrampilan yang sedang diajarkan untuk mengevaluasi diri mereka dan teman satu kelompok.

Pada saat pertama kali guru menggunakan pembelajaran kooperatif, guru juga perlu memberikan bantuan dengan cara menjelaskan perintah, mereview konsep atau menjawab pertanyaan.

Selanjutnya langkah-langkah yang dilakukan guru sebagai berikut :

1) Mintalah anggota kelompok memindahkan meja / bangku mereka bersama-sama dan pindah kemeja kelompok.

2) Berilah waktu lebih kurang 10 menit untuk memilih nama kelompok.

3) Bagikan lembar kegiatan siswa.

4) Serahkan pada siswa untuk bekerja sama dalam pasangan, bertiga atau satu kelompok utuh, tergantung pada tujuan yang sedang dipelajari. Jika mereka mengerjakan soal, masing-masing siswa harus mengerjakan soal sendiri dan kemudian dicocokkan dengan temannya. Jika salah satu tidak dapat mengerjakan suatu pertanyaan, teman satu kelompok bertanggung jawab menjelaskannya. Jika siswa mengerjakan dengan jawaban pendek, maka mereka lebih sering bertanya dan kemudian antara teman saling bergantian memegang lembar kegiatan dan berusaha menjawab pertanyaan itu.

5) Tekankan pada siswa bahwa mereka belum selesai belajar sampai mereka yakin teman-teman satu kelompok dapat mencapai nilai sampai 100 pada kuis. Pastikan siswa mengerti bahwa lembar kegiatan tersebut untuk belajar tidak hanya untuk diisi dan diserahkan. Jadi penting bagi siswa mempunyai lembar kegiatan untuk mengecek diri mereka dan teman-teman sekelompok mereka pada saat mereka belajar. Ingatkan siswa jika mereka mempunyai pertanyaan, mereka seharusnya menanyakan teman sekelompoknya sebelum bertanya guru.

6) Sementara siswa bekerja dalam kelompok, guru berkeliling dalam kelas. Guru sebaiknya memuji kelompok yang semua anggotanya bekerja dengan baik, yang anggotanya duduk dalam kelompoknya untuk mendengarkan bagaimana anggota yang lain bekerja dan sebagainya.

3. Kuis

Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan apa saja yang telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil kuis digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai perkembangan kelompok.

4. Penghargaan Kelompok

Langkah pertama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalah menghitung nilai kelompok dan nilai perkembangan individu dan memberi sertifikat atau penghargaan kelompok yang lain. Pemberian penghargaan kelompok berdasarkan pada rata-rata nilai perkembangan individu dalam kelompoknya