Perlunya Hubungan yang harmonis antara Guru dan Siswa


     Anak-anak memang unik, lucu, dan tentu saja menarik untuk disimak. Berbagai fenomena dapat kita amati dari pergaulan antar teman di sekolah (peer group). Tidak terlepas dari persoalan kejiwaan itu adalah masalah sosial, atau konkritnya adalah hubungan/pergaulan antar anak baik di lingkungannya.
Hubungan harmonis antar teman atau sebaliknya hubungan yang tidak harmonis antar teman, dapat pula membawa dampak psikososial di masa remaja dan dewasanya kelak. Jadi antara persoalan psikologis dan persoalan soaial dalam arti pergaulan antar teman di masa anak-anak ini saling terkait. Di samping itu faktor kejiwaan yang mungkin merupakan pembawaan (heriditas) dapat pula berpengaruh besar terhadap kelancaran hubungan sosial anak.

     Pada sisi lain harmonis tidaknya hubungan antar teman bisa pula menimbulkan persoalan psikologis pada diri anak. Persoalan psikososial yang dialami anak pada gilirannya juga akan menjadi persoalan pendidikan pula. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi apakah seorang anak diterima atau disingkirkan dari pergaulan antar teman, salah satu di antaranya adalah faktor uang jajan sekolah.
Ada dua sisi yang saling silih berganti ibarat dua sisi mata uang yang saling bergantian. Dua sisi kondisi yang dimaksud sebagai akibat banyak sedikitnya uang jajan, misalnya suatu saat seorang anak tersingkir dari pergaulan teman-temannya. Tetapi di saat lain dapat saja dia menjadi tokoh di antara mereka. Dua sisi kondisi yang demikian selalu silih berganti dialami oleh seorang anak.
Oleh karena itu pengaruh kejelian orang tua dalam mengamati seharusnya anak diberi uang jajan berapa, hal itu merupakan sesuatu yang bijaksana. Namun juga dibutuhkan hubungan yang baik dengan para guru di sekolah, agar pelaksanaan pendidikan dapat berjalan secara lebih baik.

            Dengan komitmen terhadap tugasnya, guru-guru senantiasa selalu berusaha mengasah diri untuk mengembangkan kemampuan professional secara optimal, baik dalam penguasaan : kurikulum, materi pelajaran, penggunaan metode pembelajaran, pemilihan dan penggunaan alat / media belajar secara tepat dan penerapan alat evaluasi secara tepat pula.
Kegiatan belajar sesuai dengan bentuk belajar ketrampilan, menekankan pada proses latihan. Tahapan latihan ini dimulai dengan pencapaian hasil belajar kognitif, baik berupa konsep dan prinsip. Selanjutnya, dilakukan latihan menyesuaikan gerakan dengan aturan-aturan tertentu, dan melalui latihan lebih lanjut, diberi kebebasan untuk mengembangkan kemampuan sampai mencapai kemampuan atau ketrampilan yang berbentuk pola-pola respon.
Praktek pengajaran dengan pendekatan keaktifan Guru-Siswa menuntut upaya guru dalam merancang berbagai bentuk kegiatan belajar yang memungkinkan terjadinya proses belajar aktif pada diri siswa. Rancangan itu merupakan acuan dan panduan, baik bagi guru itu sendiri, maupun bagi siswa. Kadar keaktifan dalam pengajaran dengan pendekatan keaktifan Guru-Siswa tercermin dalam kegiatan baik dilakukan guru, maupun siswa.

2 Comments

  1. Sangat setuju. Karena tanpa adanya tersebut, kita tidak akan mendapat hasil maksimal.

    ReplyDelete

Terima kasih dan salam blogger . jangan lupa sering sering berkunjung .
supaya dapat informasi terbaru

NO SPAM
NO LINK AKTIF
NO IKLAN